TAK KENAL MAKA TAK MEMBACA.

TAK MEMBACA MAKA TAK MENULIS.

TAK MENULIS MAKA TAK MENYUNTING.

TAK MENYUNTING MAKA TAK SAYANG.

30 tahun Menulis dan Menyunting

 

Tahun 1991 saya "terdampar" di Prodi D-3 Editing, Universitas Padjadjaran. Pendidikan tinggi vokasi ini membawa saya ke dunia yang sama sekali tidak pernah terbayangkan: menulis dan menyunting naskah. Tahun pertama kuliah, saya langsung jatuh hati dan menetapkan renjana di dunia literasi ini.

 

Tahun 2021 berarti tepat tiga puluh tahun saya berada di dunia penulisan dan penyuntingan, khususnya penerbitan buku. Saya selalu bertekad untuk menjadi seorang profesional sehingga upaya terus menambah kapasitas diri, kompetensi, dan reputasi saya lakukan hingga kini. Saya merayakan Ikigai menulis dan menyunting versi saya dengan memaklumkan situs web ini: PenulisPro.id.

Taktis Menulis Plus Menyunting

Tidak ada satu bidang pun di dunia ini yang dapat lepas dari tulis-menulis dan sunting-menyunting. Ini yang mendasari saya begitu antusias memasuki rimba belantara penerbitan. Apakah menulis dan menyunting itu bakat? Menurut Daniel Coyle dalam bukunya The Talent Code, bakat adalah keterampilan yang diulang-ulang. Saya menyetujuinya bahwa ketaktisan menulis dan menyunting adalah buah dari berlatih dan berproses secara terus-menerus.

Menyelia Ribuan Buku

 

Sejak tahun 1994 saya telah memilih jalur profesional sebagai authorpreneur sekaligus sebagai karyawan penerbitan buku. Ada ribuan naskah yang telah saya telaah dan edit. Beberapanya diantarkan sebagai buku best seller. Semuanya karena renjana saya "bergumul" dengan naskah sungguh sudah terinstal sejak saya kuliah di D-3 Program Studi Editing, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Padjadjaran.

Menginsafkan Para Penulis dan Editor

 

Ada banyak kekeliruan dalam penerapan standar, kaidah, serta kode etik penulisan dan penyuntingan. Lewat berbagai media dan kegiatan, saya selalu tergerak "menginsafkan" para penulis dan editor tentang jalan buku yang baik dan benar. Pucuk dicinta ulam pun tiba ketika saya turut dilibatkan dalam penyusunan RUU tentang Sistem Perbukuan, RPP tentang Peraturan Pelaksanaan Sistem Perbukuan, dan Permendikbud terkait perbukuan. 

Artikel Terbaru

Penulispro.id/Bambang Trim | Istilah new normal muncul menyusul pandemi COVID-19 yang melanda dunia, tidak terkecuali Indonesia. Istilah new normal ini mengacu pada protokol yang harus dilakukan oleh tiap individu untuk mengantisipasi persebaran virus corona, bahkan protokol ini juga harus dijalankan suatu kelompok masyarakat hingga suatu negara atau bangsa.

 

Secara mudah kita dapat mendefinisikan new normal sebagai suatu ke­adaan  yang "memaksa" perubahan perilaku sehingga kita menerimanya sebagai kelaziman atau kewajaran yang harus dijalani. Kondisi pandemi corona dipercayai tidak akan lagi sama dengan kondisi sebelum virus corona merebak dan melewati batas-batas wilayah dunia.

 

New normal atau kelaziman baru ini harus diterima dalam kehidupan kita sehari-hari sepanjang pandemi belum berakhir. Bahkan, WHO menyatakan virus corona akan bersama manusia untuk waktu yang lama. Beberapa negara menurut Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, masih memasuki fase awal pandemi. Jadi, bakal ada gelombang puncaknya—dan saat artikel ini ditulis hal itu sudah terjadi. 

 

Indonesia agak aneh. Kasusnya sejak awal menaik dan terus menaik meskipun tidak drastis. Liburan besar telah terlewati dan terbukti menimbulkan klaster baru yakni klaster liburan.

 

Walaupun begitu, kita dianjurkan untuk tetap optimistis sepanjang mengikuti anjuran pemerintah dan otoritas kesehatan di negeri ini. Jika tidak, tagar kritik #IndonesiaTerserah yang pernah memuncak memang membuktikan bahwa kebanyakan kita bersikap masa bodoh soal kelaziman baru yang mengubah perilaku kita. Perilaku kita tetap sama saja, cuek dan santuy.

 

Saya hendak menuliskan soal kelaziman baru dikaitkan dengan penulis buku. Profesi ini termasuk yang terkena imbas pandemi corona meskipun imbas itu bukan berpengaruh pada proses kreatifnya. Imbas yang paling terasa adalah kehilangan potensi imbalan dari hasil menulis buku. Penulis buku harus bersiap dengan kelaziman baru yang akan diterapkan oleh penerbit atau kliennya. Bagi dirinya sendiri, kelaziman baru itu semestinya tidak ada.

 

Ketika Penulis Memasuki Kelaziman Baru

 

Jika perkara kelaziman baru ini dikaitkan dengan para penulis buku, tampaknya hal ini sudah lama berlaku. Penulis buku umumnya adalah makhluk soliter alias orang yang senang menyendiri. Soliter tentu tidak identik dengan intover. Meskipun awalnya menyendiri, seorang penulis memublikasikan gagasannya (pikiran dan perasaan) kepada orang banyak. 

 

Memang aktivitas menulis buku memerlukan ketenangan dan kesendirian. Jadi, penulis buku itu sudah lazim melakukan perenggangan demi perenggangan seperti berikut ini.

 

Kalau disebut ia melakukan perenggangan sosial (social distancing) itu sudah sering dilakukannya. Seberapa riuhnya obrolan di kafe atau di tempat kerjanya, ia takkan melayani obrolan atau pertanyaan saat menulis. Ia menjadi antisosial dalam keadaan tertentu.

 

Bahkan, ia memilih menulis saat orang lain tertidur dan memilih tidur saat orang lain terjaga.

 

Kalau disebut ia melakukan perenggangan fisik (physical distancing), tentu apalagi. Penulis tidak akan memilih dekat-dekat orang lain saat menulis karena bakal sulit mengetik dan mengganggu konsentrasinya. Ketika hendak menulis di restoran kereta api, saya berusaha memilih tempat yang tidak berhadapan dengan orang lain--meskipun sebenarnya dilarang bekerja di kereta api. 

 

Nah, ini istilah baru yaitu perenggangan suasana (atmosphere distancing). Hahaha ini istilah saya saja. Jadi, penulis itu seberapa pun ingar bingarnya suasana di tempat ia menulis, ia sudah melakukan perenggangan perasaan dan pikirannya untuk tidak terlibat dengan suasana. Ini sebuah keunikan tersendiri. Ada juga fakta seorang penulis yang tiba-tiba undur diri dari media sosial, kemungkinan memang ia sedang menulis buku yang memerlukan konsentrasi tinggi. Tapi, ada juga kemungkinan ia lagi terbelit masalah sehingga tidak mampu menulis lagi di media sosial.

 

Satu lagi, penulis tidak ada masalah apakah disuruh menulis dari rumah, dari kantor, dari hotel, atau dari tadi. Ya, waktu dan tempat menulis tak menjadi masalah bagi seorang penulis profesional. Kalau saya berkilah, menulis itu dari hati dan pikiran. Jadi, yang namanya hati dan pikiran itu selalu ada bersama diri saya sehingga tidak masalah kapan pun dan di mana pun saya dapat menulis. Namun, jika dibandingkan karantina, penulis sering juga melakukannya dengan "mengarantina" dirinya untuk menyelesaikan suatu proyek penulisan. Berinteraksi hanya untuk makan dan minum.

 

Jika pun ada kelaziman baru yang dimasuki penulis buku, ia tak lagi dapat bertemu pembacanya secara fisik dalam acara peluncuran buku dan bedah buku. Acara-acara itu tergantikan dengan pertemuan daring menggunakan aplikasi konferensi video. Untungnya, acara itu dapat dihadiri siapa pun tanpa batasan ruang. Demikian pula pameran-pameran buku yang sering menghadirkan sosoknya, kini tergantikan dengan kegiatan secara daring.

 

Beberapa penerbit menunda pencetakan buku sehingga yang ditawarkan buku diterbitkan dulu secara elektronik. Sang penulis buku pun harus menerima bukunya tak lagi dapat dipegang dan ditimang-timang. Buku elektronik diterbitkan lebih dulu daripada buku cetak menjadi sebuah kelaziman baru yang harus diterima para penulis buku, terutama di Indonesia--meskipun bagi beberapa orang ini juga sudah dilakukan pada masa sebelumnya.

 

Kelaziman baru yang paling mengharukan bagi para penulis buku mungkin, mungkin ini ya, royalti tak lagi selancar atau sebesar masa sebelum corona. Tapi, yang satu ini tidak boleh mematahkan semangat untuk menulis buku. Penulis dapat membantu penerbit menjual bukunya sendiri—ini sih bukan kelaziman baru karena dari dulu juga penulis diminta membantu penjualan buku.

 

Tetap Berkarya Saat Corona

 

Ini bukan kelaziman baru, melainkan tren yang sudah dapat ditebak yaitu munculnya buku-buku bertajuk corona. Itulah penulis buku, apa pun yang terjadi menyangkut peristiwa, fenomena, dan momentum bakal terbit dalam bentuk buku. Dengan keistimewaannya melakukan perenggangan sejak lama maka penulis sudah mampu beradaptasi pada zaman corona ini.

 

Ia malah punya kesempatan menyendiri lebih lama lagi untuk  menghasilkan karya-karya baru yang berpengaruh, tak harus tentang corona. Jadi, tidak perlu distimulus, para penulis buku itu sudah pasti dengan instingnya akan menulis dan menulis. Jika distimulus, apakah itu dengan iming-iming uang atau  hadiah wisata dan umroh, tentu penulis bakal menggebu lagi menulis dalam kesendiriannya.

 

Terkait kelaziman baru, saya jadi ingat buku Mark Manson yang berjudul menarik itu Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo AmatPendekatan yang Waras Demi Menjalani Hidup yang Baik. Ingatan saya bukan hendak mengatakan bodo amat dengan kelaziman baru, melainkan bagaimana kita bersikap dalam konteks tetap menulis sesuatu yang bermutu dalam situasi pandemi ini.

 

Corona memberi pelajaran amat berharga di dalam kehidupan kita; memantik begitu banyak gagasan baru tentang arti berjuang, bertahan, dan bergerak mengatasi guncangan dari banyak sektor. Penulis punya kekuatan menggerakkan penanya untuk sekadar menyemangati pembacanya atau terlebih lagi memberi solusi.

 

Baiklah kalau begitu. Selamat memasuki kelaziman baru kalau itu disebut sebagai normal baru agar kita tetap sehat dan waras!

Testimoni

Mandus Tallo

“Menulislah sebelum namamu ditulis di Batu Nisan. Tulisan itu ibarat Nisan abadi,karena dengan menulis,mengukir nama disetiap karya. Bambang Trim,sangat konsisten menulis baik secara etik maulun emik dalam buah karya yang dihasilkan. Konsistensi dan kedisiplinan senantiasa mengajarkan kepada semua insan penulis agar menulis dengan benar dan sepenuh hati. Sukses terus Mentor dan Guru menulis Indonesia,Terima kasih sampai saat ini masih menjadi penulis dan akan menjadi penulis selamanya.

Dave Willson

Ganti teks ini dengan informasi mengenai diri Anda dan bisnis Anda atau tambahkan informasi yang akan berguna bagi klien Anda.

Emma Rosenberg

 

Ganti teks ini dengan informasi mengenai diri Anda dan bisnis Anda atau tambahkan informasi yang akan berguna bagi klien Anda.

Amy Jones

 

Ganti teks ini dengan informasi mengenai diri Anda dan bisnis Anda atau tambahkan informasi yang akan berguna bagi klien Anda.