Literasi Magic Jar: Menulis 1 Piring Nasi dalam Waktu Kurang dari 1 Jam

Penpro.id | Riuh status dan komentar di linimasa Facebook tentang pelatihan bertajuk “Menulis 1 Buku dalam Waktu 1 Jam”. Ada tiga narasumber kelas menulis daring ini, dua pembicara dengan gelar sarjana dan satu pembicara tanpa gelar yang tampaknya menjadi narasumber utama. Kegiatannya sendiri sudah beberapa bulan lewat, tetapi terkuak di FB saya baru kemarin ini.

Mungkin akhir-akhir ini saya memang kurang kepo dengan dunia penulisan di media sosial. Jadi, mungkin juga tulisan ini terlambat, nasi sudah keburu dingin. Namun, tak apalah sebagai pengisi web yang baru saya lahirkan ini.

Kembali pada kegiatan menulis yang bombastis itu, ternyata kegiatan serupa sudah pernah digelar pada tahun 2020 di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Tidak tanggung-tanggung kelas menulis buku satu jam itu diisi oleh dua pembicara kunci (Pjs Bupati Tanah Datar dan Kadisdikbud Tanah Datar) serta tujuh narasumber. Onde mande, boleh jadi ini sebuah representasi gerakan literasi dari wilayah Sumatra Barat yang pernah melahirkan para penulis ternama di negeri ini.

Kegiatan digelar selama tiga hari dengan durasi 3,5 jam (12.50–15.20) per hari plus pendampingan di grup WA selama 30 hari. Maka dari itu, sertifikat yang diberikan kepada peserta berdurasi 32 jam pelajaran. Artinya, untuk mampu menulis buku dalam waktu 1 jam maka diperlukan pelatihan selama 32 jam. Teori 10.000 jam pelatihan pun lewat karena mereka yang mampu menulis satu buku dalam waktu satu jam kelasnya sudah tingkat dunia—meskipun belum ada di dunia.

Dari sebuah portal berita yang menjadi sponsor kegiatan ini disebutkan bahwa peserta mencapai 416 orang, terdiri atas 376 berasal dari Tanah Datar dan 40 orang dari luar Tanah Datar. Peserta dominan adalah guru dan siswa. Membeludaknya peserta jelas karena pelatihan ini gratis. Jika berbayar, pastilah ini merupakan kepenasaran tingkat dewa bagi orang-orang yang menghamba pada kecepatan dan mendamba pada kemudahan.

Adapun yang diributkan di FB, kelasnya berbayar Rp199.000,00 dengan durasi yang sama 3,5 jam (12.50–15.20) dan hanya sehari. Peserta pun katanya dibatasi dan entah akhirnya berapa peserta yang mendaftar pada bulan Juni itu.

Kegiatan terbaru dengan pembicara inti yang sama digelar oleh Jihan Media Pustaka dengan tajuk “Pelatihan Menulis 1 Novel dalam Waktu 1 Hari” pada tanggal 31 Oktober 2021 yang lalu dalam bentuk tatap muka, lagi-lagi di Tanah Datar. Durasinya pukul 8.30–15.00 menghadirkan dua narasumber pendamping, yaitu penulis novel fenomenal dan pelajar penulis 13 novel. Pendampingan dimulai 1–30 November 2021.

Jadi, mungkin karena novel bukan buku, menulisnya harus 1 hari. Adapun buku, menulisnya cukup 1 jam.

Saya tidak ingin memajang iklan pelatihan itu di sini. Anda cari saja dengan meramban di internet. Ukuran waktu 1 jam itu hanya sensasi. Kalangan penulis profesional akan menganggapnya sebagai guyonan, kecap, atau apa pun yang bukan fakta sebenarnya. Bahkan, embel-embel pendampingan 30 hari sudah mematahkan logika menulis 1 buku dalam 1 jam, pun pendampingan untuk ratusan orang secara paralel juga sebuah “hil yang mustahal”.

Namun, saya penasaran juga apa yang ditulis oleh Ahmad Kindi di dalam bukunya Bagaimana Menulis 1 Buku Dalam Waktu 1 Jam dan juga 1 Novel Dalam Waktu 1 Menit. Apakah itu benar-benar sebuah buku yang diterbitkan oleh Jihan Media Pustaka? Ada ternyata, sodara-sodara.

Sumber: Facebook Jihan Pustaka Media

Saya bantu promosikan di sini. Anda tinggal mengakses FB Jihan Pustaka Media. Buku ini memuat wara: Bukan isu baru, bisa menulis 1 buku dalam waktu 1 jam. Hanya tentang bagaimana memanfaatkan teknologi dalam aktivitas menulis. Teknologi apa yang dapat dimanfaatkan untuk menulis buku dalam waktu 1 jam?

Soal ini juga sudah dibahas dengan sindirin yang “brutal” di Mojok.co. Penulisnya Gusti Aditya. Ini memang jitu sebagai sebuah terobosan untuk melambungkan sosok yang bukan siapa-siapa menjadi perbincangan nasional, bahkan di kalangan para penulis profesional.

Jihan Pustaka Media (JMP) yang mungkin dimiliki oleh Ahmad Kindi sendiri tampak tidak konsisten menancapkan jenamanya. Ada pelatihan menulis buku dalam 1 menit, ada yang dalam 1 jam, dan ada yang dalam 1 hari. Tinggal yang belum ada ialah menulis buku dalam 1 detik.

Ujung-ujungnya ini hanya bisnis jasa penerbitan. Di FB JMP itu ada yang menarik tentang terobosan cara cepat menulis buku poin ke-9. Jangan Tulis!: Dengan kesibukan yang padat dan tugas yang segudang terkadang membuat kita tidak punya waktu untuk menulis. Maka itu, solusinya adalah jangan tulis! Anda bingung? Itu bagus. 

He-he-he saya dan mungkin Anda sudah kehabisan kata-kata. Namun, saya tidak bingung jika makna memanfaatkan teknologi itu adalah copy paste tulisan orang lain di internet. Akan tetapi, jangan buru-buku menghakimi.

Jika penasaran, ya ikut saja pelatihannya karena bakal terjawab apa yang dimaksud menulis 1 buku dalam waktu 1 menit, 1 jam, atau 1 hari itu. Ahmad Kindi mugkin tidak sedang membual dan layak diganjar Rekor MURI serta gelar tokoh literasi.

Di sisi lain, mungkin ada kilah yang logis.

Satu jam itu begini …. Menulis buku itu kan berproses. Ada proses yang namanya pra-menulis. Nah, pra-menulis itu dapat dilakukan selama satu jam. Itu bagian dari proses menulis buku juga. Jadi, satu jam Anda sudah dapat menulis buku.

Apa yang dilakukan Ahmad Kindi dan para narasumber pendampingnya serta panitia pelatihannya memang pantas untuk dicibiri. Namun, cibiran itu berubah menjadi promosi gratis tentang ide pelatihan ini yang sebenarnya bukan ide baru dan orisinal juga. Sudah banyak buku yang mengusung judul bombastis 1 menit atau 1 jam melakukan sesuatu. Ujung-ujungnya bukan itu yang dimaksudkan, sekadar gimik. Ini pula yang membuat orang boleh jadi tertarik berkunjung ke Tanah Datar.

“Instanisasi” Menulis Buku

Saya pun pernah menggelar pelatihan bertajuk menulis buku dalam 11 hari. Ini yang saya sebut “instanisasi” untuk menarik banyak orang yang mendambakan kepraktisan. Namun, saya masih mengharamkan klausa “menulis buku itu gampang”. Tidak ada yang gampang, yang ada adalah ketaktisan. Orang yang taktis karena sudah terlatih. Orang yang terlatih karena ia benar-benar memiliki renjana menulis dan tahu tujuan menulis itu untuk apa serta mau ke mana.

Menulis buku dalam sebelas hari tentu saja syarat dan ketentuan berlaku. Durasi sebelas hari itu dibagi atas beberapa tahapan proses dan buku yang dapat ditulis juga merupakan buku cepat saji atau buku instan. Pengalaman saya membuktikan bahwa sebuah buku cepat saji dengan panjang 48 halaman dapat diselesaikan dalam rentang waktu sebelas hari, bahkan kurang dari itu.

Bagaimana kalau satu jam? Tentu syaratnya menggunakan ajian bernama “kilat menyambar, kunyuk melempar pena”.

Anda dapat mengunduh buku cepat saji yang saya tulis kurang dari sebelas hari di sini. Faktanya memang demikian karena buku ini dikembangkan dari artikel, lalu saya buat dalam bentuk carousel di Instagram yang saya sebut bukugram. Alhasil, dari sana dikembangkan dalam bentuk buku cepat saji.

BUKU-E Tangisan Jadi Tulisan Presspdf

Literasi Magic Jar

Ahmad Kindi adalah sebuah fenomena keliterasian di negeri ini. Jangan dibalik: Sebuah fenomena keliterasian di negeri ini adalah Ahmad Kindi. Sosok seperti Ahmad Kindi dengan foto berpenampilan agamais menunjukkan ia tidak sedang bermain-main dengan gagasan menulis 1 buku dalam 1 jam. Ia mungkin sedang menyindir orang-orang yang terlalu serius dengan literasi tanpa sentuhan manusiawi.

Manusia itu senang dengan hal-hal yang instan tidaklah dapat dimungkiri. Itu mengapa mi dadak atau mi instan menjadi makanan favorit di berbagai belahan dunia, terutama merek Indomie. Saya juga penggemar beratnya meskipun belum diminta menjadi influencer untuk produk ini.

Banyak manusia yang tidak punya cukup waktu untuk mendengarkan teori dan mempraktikkannya dengan standar dan prosedur. Mereka ingin serbamudah seperti memasukkan beras dan air ke magic jar, lalu menunggu kurang dari satu jam maka nasi pun siap disajikan.

Itu mengapa literasi kita memang mirip dengan literasi magic jar dengan sekian kegiatan pelatihan menulis secara instan, bukan hanya yang digelar Ahmad Kindi. Banyak orang sadar akan kepentingan literasi, tetapi tidak benar-benar melek literasi. Kondisi rabun literasi inilah yang dimanfaatkan untuk menggelar kegiatan-kegiatan yang kurang masuk akal dalam dunia tulis-menulis.

Jika diminta menjadi narasumber pelatihan menulis buku, lalu saya hanya diberi waktu 1 atau 2 jam berbicara, saya sering tersenyum—apalagi ekspektasi panitianya lumayan banyak. Kepada panitia saya sampaikan jika hanya berbicara dalam durasi waktu tersebut yang saya sampaikan hanya motivasi dan kiat-kiat praktis tanpa pendalaman. Nama eloknya bukan pelatihan, melainkan seminar atau lokakarya saja. Apalagi jika dalam satu kegiatan ada beberapa pembicara. Saya akan sadar diri untuk memberi materi yang ringan dan lucu dari topik berat bernama menulis buku.

Dalam sebuah acara unjuk wicara yang dihadiri narasumber Haidar Bagir dan Bondan Winarno akhir tahun 1990-an, Bondan mengkritik tema acara itu tentang buku serius. Ia tidak setuju ada dikotomi antara buku serius dan buku tidak serius. Menurutnya, menulis buku itu saja sudah serius, bagaimana mungkin ada buku tidak serius?

Kalaulah Pak Bondan masih hidup dan mendengar kegiatan pelatihan menulis 1 buku dalam waktu 1 jam, mungkin beliau akan berkomentar singkat saja, “Serius, nih?”

Dan Superman asli pun tersenyum, “Ape gue bilang? Ini gara-gara buku si Mark Mason itu. Bodo amat!”

Superman sitting while relaxing on a cloud and smiling. Art by Frank Quitely for the cover of “All-Star Superman Issue 1,” 2007.

 

 

Leave a Comment