Frankfurt di Mata Tukang Buku Keliling

Penulispro.id/Bambang Trim | Afirmasi bagi diri sendiri kadang dianjurkan sebagai peneguhan positif terhadap niat. Semester II tahun 1991 di Prodi Editing Unpad, saya belum mengerti apa itu afirmasi. Tapi, saat itu beberapa kali saya meneguhkan diri sendiri ibarat bersenandika: “Suatu saat saya harus ke Frankfurt!”

Pasalnya, saya begitu terpukau mendengar perihal pameran buku terbesar sejagat di Frankfurt yang disampaikan dosen saya. Ia membawa cenderamata dari Frankfurt Book Fair yang diberikan kepada mahasiswa terpilih—tentu yang nilainya paling bagus. Dan saya tidak pernah terpilih.

Afirmasi itu menjadi kenyataan delapan tahun kemudian, tepatnya Oktober 1999. Itulah momentum keberangkatan perdana saya ke luar negeri dan ke Frankfurt pula. Lucunya atau boleh dibilang sebuah kejutan, saya justru berangkat dengan dosen yang menjadi pangkal afirmasi, Ibu Sofia Mansoor.

Bahasa religiusnya doa saya dikabulkan Allah Swt. Sungguh perjalanan yang mengesankan meskipun tidak pernah saya tuliskan.

Sewaktu Bu Sofia dan teman sekantor saya, Bu Evi berplesiran ke Heidelberg, saya lebih memilih jalan-jalan menyusuri Kota Frankfurt memanfaatkan transportasi umum. Saya juga menghabiskan waktu mengunjungi semua gedung (hall) di area Frankfurt Book Fair (populer disebut Messe).

Kebetulan saya memiliki kartu pass sehingga bebas pergi ke mana pun dengan bus atau kereta di Frankfurt. Berjalan sendirian dan baru kali pertama ke luar negeri, itu pengalaman tak terlupakan.

Pameran buku di FBF memang diselenggarakan di banyak gedung—ada delapan gedung. Gedung-gedung itu ada yang mewakili kelompok negara dan juga jenis buku. Buku anak dan remaja menempati satu gedung khusus. Tak cukup satu hari mengitari semua gedung.

Betapa besar dan banyaknya buku sehingga terkenal ungkapan: “So many books; so little time.”

Hingga kini baru lima kali saya ke Frankfurt, yakni tahun 1999, 2003, 2009, 2010, dan 2015. Tiga kali dibiayai penerbit Grafindo Media Pratama, satu kali dibiayai penerbit Tiga Serangkai, dan satu kali diongkosi Ikapi. Terakhir adalah saat Indonesia menjadi guest of honor. Ala backpacker bersama kolega di Ikapi, saya juga mengunjungi Amsterdam dan Paris.

Frankfurt membuat saya jatuh hati, jauh sebelum saya akhirnya ke sana. Ich liebe dich.

Renjana membawa saya ke sana. Rezeki berbuah pergi yang dibiayai, bukan dari kocek sendiri. Kalau pakai uang sendiri, mana boleh (kata orang Malaysia).

Kalau ditanya apa saja “buah” yang diperoleh menekuni jalan buku. Salah satu jawaban saya adalah Frankfurt. Semoga ada yang membiayai lagi ke sana.

Leave a Comment