Tampilan Teks Dialog, Monolog, dan Obrolan Daring pada Fiksi

PenulisPro.id | Semester IV tahun 2022 saya kembali mengampu mata kuliah Penyuntingan Fiksi di Prodi Penerbitan, Politeknik Negeri Media Kreatif. Ini mata kuliah unik, tetapi sangat penting bagi calon editor, terutama mereka yang bakal terlibat dalam penyuntingan cerpen dan novel sebagai karya fiksi.

Teks di dalam fiksi perlu diedit karena selalu ada kemungkinan penulis melakukan kesalahan pada materi, penyajian, dan bahasa fiksi. Teks fiksi dapat dibagi atas tiga unsur: (1) deskripsi; (2) narasi (pengisahan); dan (3) percakapan. Teks deskripsi biasa digunakan untuk menggambarkan tokoh dan latar. Adapun teks narasi biasa digunakan untuk menjelaskan bergeraknya alur cerita. Teks percakapan yang akan dibahas di dalam tulisan ini terbagi atas dialog, monolog, dan obrolan daring (chat).

Umumnya percakapan di dalam teks fiksi ditulis sebagai kalimat langsung menggunakan tanda petik atau tanda kutip (“…”). Perhatikan contoh ini.

Contoh 1:

"Siapa yang bilang?" tanya Rosi sambil mendelik.
"Danu, Kak," jawab Zahra dengan tenang.

Contoh 2:

"Jangan sedikit-sedikit mengadu!" 
"Siapa yang mengadu?"

Percakapan ada yang diikuti dengan keterangan ujaran atau disebut juga klausa pelaporan, tetapi ada pula yang tidak seperti contoh 2. Keterangan ujaran tidak diperlukan jika percakapan antardua orang dapat langsung dikenali pembaca siapa saja yang berbicara.

Ada bermacam kata keterangan ujaran seperti berikut ini:

ujar, kata, tanya, tegas, kilah, tukas, pungkas, bisik, desis, sahut, jawab, sergah, dsb.

Kata keterangan ujaran itu perlu diedit karena beberapa penulis keliru menggunakan kata sesuai dengan makna sebenarnya. Contohnya, kata ‘kilah’ yang berarti menyangkal dan kata ‘tukas’ yang berarti menuduh.

Dialog

Dialog ialah percakapan antara dua orang atau lebih di dalam cerita. Dialog berfungsi menggerakkan alur cerita dan menghidupkan jalan cerita. Ada saja fiksi yang minim dialog, bahkan ada yang sama sekali tidak menggunakan dialog. Fiksi yang tidak menggunakan dialog—praktis hanya deskripsi dan narasi—tentu tidak menarik untuk dibaca.

Dialog di dalam teks sebagaimana telah dijelaskan ditulis dengan kalimat-kalimat langsung menggunakan tanda petik atau tanda kutip. Perhatikan contoh berikut ini.

“Itu burung apa, Kek?” tanya Manik. Rasa ingin tahu terpancar di wajahnya yang sejati.
“Namanya burung kutilang. Bagus, kan?”
Manik diam. Dia tetap menengadah, matanya terus menatap ke dalam kurungan.
“O, jadi itu burung kutilang, Kek? Aku sudah lama tahu burungnya, tapi baru sekarang tahu namanya. Kek, aku bisa nyanyi. Nyanyi burung kutilang.”
“Wah, itu bagus. Baiklah cucuku, cobalah menyanyi, Kakek ingin dengar.”
Manik berdiri diam. Barangkali anak TK itu sedang mengingat cara bagaimana guru mengajarinya menyanyi.

(Kutipan cerpen "Lelaki yang Menderita Bila Dipuji" karya Ahmad Tohari)

Dialog di dalam contoh cerpen tersebut adalah antara cucu dan kakeknya. Ahmad Tohari menggunakan keterangan ujaran untuk mengawali percakapan lalu diikuti dengan deskripsi. Selanjutnya, terdapat pula narasi pada kalimat: Manik diam. Dia tetap menengadah, matanya terus menatap ke dalam kurungan.

Penulisan dialog dalam kalmat langsung dengan tanda baca sudah lazim dikenal dalam penulisan teks fiksi. Namun, editor mungkin masih menemukan kesalahan-kesalahan penggunaan tanda baca seperti contoh berikut ini.

"Dari mana kau dapat barang ini"?
"Dari... Ah, rahasia. Aku tak boleh bilang"!

Kesalahan yang terlihat oleh mata, yaitu kesalahan penggunaan tanda petik/kutip yang keliru dan kesalahan penggunaan elipsis yang menggunakan spasi. Versi yang benar dari penulisan dialog tersebut sebagai berikut.

"Dari mana kau dapat barang ini?"
"Dari ... Ah, rahasia. Aku tak boleh bilang!"

Di dalam dialog sangat mungkin ada percakapan lain. Percakapan dalam percakapan. Contohnya, seperti ini.

"Baru tadi aku ketemu Pak RT. Dia bilang, 'Ada vaksin booster di puskesmas.'"

Percakapan kedua menggunakan tanda petik tunggal (‘…’).

Monolog

Sesuai dengan sebutannya, monolog ialah percakapan yang dilakukan dengan diri sendiri. Monolog juga sering digunakan dalam istilah lakon drama ketika pemain drama hanya satu orang. Istilah lain yang digunakan adalah ‘senandika’.

Di KBBI senandika dijelaskan sebagai wacana seorang tokoh dalam karya sastra yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca.

Istilah lain yang juga semakna dengan senandika adalah solilokui. Ini istilah yang diperkenalkan oleh William Shakespeare dalam drama karyanya. Contoh paling populer adalah pidato dari tokoh Hamlet.

Pertanyaannya, bagaimana menuliskan teks monolog di dalam karya fiksi? PUEBI memang belum mengatur sampai sedetail ini. Saya memaklumkan monolog tetap ditulis sebagaimana kalimat langsung.

Kakek Duma membatin dalam hati. 
"Rupanya selama ini aku salah menilai anak itu. Nakalnya cuma pelarian. Anak itu sebenarnya baik ...."

Beberapa penulis menyajikan teks monolog dengan huruf italik (miring). Selama belum ada pengaturan dalam PUEBI, tentu penulisan semacam ini sah-sah saja jika penerbit mengamini sebagai gaya yang dapat berterima. Namun, saya menganggap dialog setara dengan monolog sebagai percakapan meskipun monolog ialah percakapan di dalam hati dengan diri sendiri.

Tentu hal ini harus dibedakan dengan teks pada drama atau skenario. Teks percakapan di dalam drama tidak lagi menggunakan tanda petik/kutip, tetapi nama tokoh (yang berbicara) diikuti dengan percakapan. Namun, untuk monolog biasanya ditik dengan huruf italik.

Obrolan Daring

Pada zaman dulu penulis memasukkan percakapan telepon sebagai bagian dari cerita. Percakapan telepon dapat diasumsikan sebagai percakapan langsung yang kedudukannya sama dengan dialog. Karena itu, penulisannya juga menggunakan model penulisan dialog.

Lalu, bagaimana dengan percakapan daring? Sebelum ada WAG atau Telegram, kita mengenal juga SMS dan BBM. Obrolan atau percakapan daring ini juga sangat mungkin muncul di dalam cerita. Bagaimana menuliskannya?

Saya cenderung menuliskan teks obrolan daring dengan huruf italik dengan memberi pembatas berupa spasi dari deskripsi atau narasi. Hal ini untuk membedakannya dari dialog dan monolog. Contohnya, seperti ini.

"Coba hubungi dia," pinta Sinta.
Aku segera mengetik pesan WA di ponsel.

Dung, dicariin Sinta tuh.
Ada apa?
Kayanya soal panitia.
Ya, ntar aku ke sana.

Obrolan daring sangat biasa terjadi apa adanya tanpa menerapkan aturan ejaan atau tata tulis. “Polisi bahasa” di WAG akan bekerja sia-sia karena pengguna WA berbahasa tulis tidak berpedoman pada PUEBI.

Namanya juga percakapan tidak resmi. Sangat mungkin yang mengetik di WA tidak menggunakan tanda tanya untuk kalimat tanya atau juga aturan huruf kapital. Bahkan, sebuah pesan juga dapat ditingkahi dengan emotikon. Editor memang tidak perlu menjadikan obrolan daring sebagai teks yang baku.

Cara lain adalah menampilkan obrolan daring sebagai gambar. Jadi, ditampilkan sebagai tangkapan layar. Hal ini sangat mungkin dilakukan dalam sebuah novel. Namun, dalam sebuah cerpen tentu kurang lazim meskipun dapat saja dilakukan.

***

Begitulah kira-kira tata tulis dialog, monolog, dan obrolan daring di dalam karya fiksi, yaitu cerpen dan novel. Perkara ni merupakan bagian kecil dari fokus penyuntingan fiksi yang perlu diketahui oleh penulis dan tentunya editor. Banyak hal yang belum diatur secara detail di dalam pedoman kebahasaan sehingga seorang editor harus mengambil keputusan dan bersikap dengan tujuan utama memudahkan pembaca memahami bacaan.

 

5 thoughts on “Tampilan Teks Dialog, Monolog, dan Obrolan Daring pada Fiksi”

Leave a Comment