Hakikat Kata Pengantar

PenulisPro.id/Bambang Trim | Ada yang bertanya melalui pesan WhatsApp, “Apa bedanya kata pengantar dan kata sambutan?”

Sebenarnya tidak ada bedanya. Namun, kadang ada yang berasumsi bahwa kata sambutan itu untuk orang yang jabatannya lebih tinggi. Sumber tentang hal ini memang tidak ada, hanya semacam ikhtiar membuat “kasta” kata pengantar berdasarkan kedudukan si pemberi pengantar. Tentu sebagai penghormatan boleh-boleh saja.

Bagaimana dengan istilah ‘sekapur sirih’? Bagian itu sama dengan mukadimah atau introduksi yang ditulis penulis untuk mengawali isi buku—mungkin ia mau berkisah awal mula ide atau sejarah ringkas perjuangan menulis buku. Introduksi tidak dimasukkan sebagai bagian isi buku. Penempatannya di halaman awal (preliminaries) sebelum masuk halaman isi.

Bolehkah Kata Pengantar Lebih dari Satu

Pertanyaan kedua, “Apakah kata pengantar boleh lebih dari satu?” Tentu saja diperbolehkan. Urutan kata pengantar dari yang pertama, kedua, hingga seterusnya lazim memperlihatkan kedudukan si pemberi kata pengantar sebagaimana telah disebutkan.

Orang yang jabatannya lebih tinggi atau lebih dihormati diberi tempat pertama. Begitu seterusnya. Maka dari itu, ada saja orang yang tersinggung jika ia berada di urutan paling akhir, padahal ia merasa lebih terhormat.

Urusan testimoni atau endorsement yang ditulis singkat juga begitu. Orang yang lebih berpengaruh, tentu diberi tempat nomor satu. Alhasil, ada pemberi testimoni yang juga tersinggung ketika ia berada di urutan di bawah orang-orang tidak berpengaruh. Mungkin penulis atau editornya khilaf, kurang gaul.

Penulisan Kata Pengantar

Kata pengantar atau dalam bahasa Inggris disebut foreword memang biasanya diminta oleh penulis atau penerbit kepada seseorang. Jika tidak mau susah, kata pengantar dibuat oleh penerbit sendiri (diwakili sang CEO atau direktur).

Pengertian kata pengantar adalah pengantar yang dibuat oleh orang lain, bukan si penulis. Penulis sendiri membuat prakata (preface). Akan tetapi, pemberi kata pengantar itu bukanlah profesi dan spesialisasi—Masa iya ada orang yang kerjaannya memberi kata pengantar?

Kata pengantar dari segi isinya ada dua. Ada kata pengantar yang berisi apresiasi terhadap karya tulis dan penulisnya. Isinya cenderung pujian dan ucapan selamat.

Kedua, ada kata pengantar yang isinya analisis kritis terhadap isi buku. Kata pengantar seperti ini memang serius dan biasanya penulis atau penerbit harus sabar menunggu lama. Tokoh yang biasa menulis kata pengantar semacam ini seperti Jakob Oetama dan Jalaluddin Rakhmat.

Para pejabat yang diminta kata pengantar sering tidak punya waktu menulis. Biasanya sang ajudan atau sekretaris meminta draf kata pengantar dari penerbit. Editor yang menyiapkan.

Dulu saya ingat beberapa kali mendadak diangkat menjadi “pejabat” dengan tugas dan fungsi membuat kata pengantar. Setelah selesai kata pengantar diajukan lewat ajudan/asisten atau sekretaris pejabat untuk disetujui. Terkadang ada koreksi di sana sini, saya manut saja.

Saat menjadi direktur di MQS, saya sering mendapat permintaan kata pengantar. Bukan saya yang diminta, tetapi Aa Gym. Lalu, saya dan satu orang editor membentuk tim penulis kata pengantar atas nama Aa Gym, termasuk dulu untuk buku beberapa pesohor dan motivator.

Isi Kata Pengantar

Kata pengantar memang sejatinya bukan sekadar basa basi, melainkan sebuah wacana penting mengantarkan karya seorang penulis. Karena itu, kata pengantar berbeda dengan testimoni yang penuh “paksaan” untuk membaca.

Saya pun sering dimintai testimoni untuk buku. Seikhlasnya saya tuliskan meskipun (mohon maaf) bukunya kurang bermutu. Tapi, untuk tidak mematikan semangat menulis dan menerbitkan buku, saya rela.Hanya saya lebih selektif memberi kata pengantar. Untuk buku kurang bermutu, saya tidak mau—bakal menurunkan muruah saya sebagai tukang buku keliling.

Ya, pernah saya menolak memberi kata pengantar sebuah buku tentang penulisan. Di dalamnya masih banyak sekali kesalahan berbahasa yang mendasar, padahal sudah berbentuk dumi siap cetak. Saya bilang diedit dulu bukunya, baru saya beri kata pengantar. Sang penerbit menurut si penulis berkilah buku itu sudah diedit. Saya mau turun tangan mengeditnya, tapi jelas menyalahi kodrat penulis kata pengantar.

Beberapa penerbit memberi penghargaan penulis kata pengantar dengan honor. Zaman saya memimpin penerbit (tahun 2000-an), kata pengantar itu dihargai Rp500.000, bahkan sampai Rp2 juta.

Leave a Comment