Membukukan 80 Tahun FTMD ITB

PenulisPro.id | Sore kemarin (8/7) saya bergabung dalam diskusi nonformal bersama para akademisi dan para senior di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB. Tentu bukan karena saya alumni FTMD ITB, melainkan karena menerima pekerjaan membukukan sejarah 80 tahun FTMD dan pemikiran untuk bangsa (energi, konstruksi, pendidikan, dan transportasi).

Diskusi menghangat pada persoalan energi, terutama pembangkit listrik. Saya menyimak dengan saksama paparan orang-orang pintar, putra-putri terbaik bangsa ini. Pak Yuli, dosen FTMD ITB memperkenalkan saya sebagai penulis buku sejarah 80 tahun FTMD ITB.

Ini adalah kali kesekian (saya lupa pastinya) saya menerima pekerjaan menuliskan sejarah sebuah lembaga. Setiap penulisan sejarah itu unik dan berkesan karena sebagai penulis pro, saya mendapatkan benefit bukan hanya honor penulisan. Benefit itu adalah pertambahan jejaring pertemanan, pertambahan wawasan tentang objek yang dituliskan, serta pertambahan portofolio karya.

Mungkin memang takdir saya gagal masuk ITB melalui jalur UMPTN tahun 1991. Dulu bercita-cita menjadi tukang insinyur, tetapi malah menjadi tukang editor. Allah memberi jalan saya terlibat juga di ITB melalui penulisan buku sejarah yang tentu mengasyikkan bagi saya.

Penulisan sejarah memang penuh liku-liku. Paling tidak seorang penulis pro bidang sejarah mesti menguasai historiografi. Saat ini bahkan sudah ada sertifikasi khusus bidang penulisan sejarah.

Saya sendiri belajar penulisan sejarah secara autodidak. Betul kata Pak Kuntowijoyo bahwa pekerjaan penulisan sejarah sering kali diserobot oleh orang-orang yang tidak menekuni ilmu sejarah, khususnya historiografi. Sarjana ilmu sejarah sendiri mungkin enggan menulis sejarah. Hehehe.

Ya, tapi tentu tidak semuanya. Saya mengetahui seperti seorang Fadly Rahman lulusan sejarah Unpad yang menulis buku tentang sejarah kuliner Indonesia. Saya juga pernah memfasilitasi penerbitan buku sejarah best seller bertajuk Api Sejarah karya salah seorang profesor sejarah, Pak Ahmad Mansur yang sangat saya hormati.

Pendeknya, saya memang penyuka sejarah. Saat ini pun saya mengedit disertasi seorang kandidat doktor bidang ilmu sejarah.

Saya sebenarnya tidak sengaja masuk ke bidang penulisan sejarah ini dimulai dari menuliskan memoar seorang dokter tentara yang pernah memimpin RSCM. Lalu, seiring waktu saya menerima pekerjaan menulis autobiografi, biografi, dan termasuk sejarah kota serta sejarah perusahaan. Ingin sekali jika ada kesempatan, saya belajar khusus tentang penulisan sejarah kepada ahlinya dan mengikuti sertifikasi penulis sejarah.

Mari membayangkan bahwa betapa banyak lembaga/institusi di Indonesia yang belum memiliki buku sejarah. Mari membayangkan berapa banyak tokoh di Indonesia yang belum memiliki autobiografi atau memoar. Itu sebabnya penulisan sejarah merupakan sebuah “laut biru” dalam kerja-kerja penulisan.

©2021 oleh Bambang Trim dalam PenulisPro.id | Sumber foto: FTMD ITB dalam https://www.ftmd.itb.ac.id/en/

Leave a Comment