#1 Menulislah Indonesia

PenulisPro.id | Gong literasi telah dipukul hampir sekira tujuh tahun lewat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejak itu, kata literasi mengalir dan hanyut sampai jauh ke berbagai pelosok negeri. Saya dan tim atas sokongan dan arahan Mas Imam B. Prasodjo pernah bergiat di sebuah kampung, di pelosok Purwakarta untuk memantik keliterasian pada guru dan murid sekolah dasar. Tidak main-main karena saya membawa orang-orang yang penuh dedikasi terhadap penulisan, yaitu Mas Hernowo (alm.), Mas Dodi Mawardi, dan Tasaro G.K.

Kami memberikan pelatihan kepada para guru dan siswa dengan dukungan dana CSR dari salah satu perusahaan, anak usaha Pertamina. Ini sebuah potret bagaimana literasi dialirkan dengan dukungan dana dari BUMN. Tanpa dukungan dana memang usaha apa pun, termasuk literasi bakal seret dan mati.

Patut diapresiasi bahwa di mana-mana, terutama di dunia pendidikan, orang-orang berusaha menjadi literat. Program membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai pun dimaklumkan untuk siswa. Guru-guru mulai aktif mengikuti lomba menulis dan berlatih menulis. Mereka digerakkan oleh magnet literasi. Mereka pun diharapkan menjadi guru penggerak literasi.

Di sini terlihat dua kontradiksi. Di satu sisi, Indonesia dinyatakan darurat literasi karena masyarakatnya ogah membaca, apalagi menulis. Akan tetapi, pada kenyataannya semangat membaca dan semangat menulis terlihat di mana-mana. Bahkan, keranjingan menulis, terutama menulis buku tidak kita temukan seperti ini pada satu hingga dua dekade yang lalu. Sampai-sampai pengajuan ISBN tiba-tiba saja kolaps dengan jumlah 140 ribu buku dalam setahun (tahun 2020).

Semangat itu dipicu banyak hal. Ada yang dipicu oleh sikap pragmatis bahwa menulis adalah jalan memperoleh angka kredit untuk kenaikan pangkat—terutama terjadi pada guru, dosen, widyaiswara, dan jabatan fungsional di pemerintah. Menulis juga dianggap sebagai prestise yang menempatkan penulisnya dipandang berbeda dari sejawatnya.

Menulis juga ternyata sangat mudah pada zaman kini sehingga kemudahan itu juga “dimanfaatkan” untuk melakukan aksi plagiarisme. Menulis juga didorong oleh faktor maraknya orang bermedia sosial seperti Facebook sehingga banyak orang tergerak untuk menuliskan sesuatu, apa pun itu.

Di balik tulisan yang membeludak itu, baik di kalangan Gen X, Gen Y, hingga Gen Z, ternyata kita dihadapkan pada persoalan serius tentang mutu. “Instanisasi” terjadi di mana-mana yang dapat dideteksi dari maraknya program pelatihan menulis dengan cara-cara instan yang jauh dari keseriusan. Menulis digaungka semudah membalikkan taplak meja. Para penulis “karbitan” itu mulai mengabaikan proses dan merasa sudah menulis.

Gejala penulisan tidak bermutu ini juga tidak dapat dinafikan akibat pembelajaran menulis yang setengah hati di ruang-ruang kelas kita, mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Guru dan dosen belum becus mengajarkan cara menulis, di sisi lain pembelajaran menulis yang semestinya dikandung setiap mata pelajaran tidak optimal dikukuhkan. Bagaimana pun menulis berbasis pengalaman dan praktik itu akan menumbuhkan kepedulian terhadap mutu.

Keterpurukan literasi ini yang kemudian dikemas sebagai gerakan dan program di mana-mana. Setidaknya ikhtiar ini juga patut dihargai meskipun cetak biru literasi terasa masih samar. Lihat bagaimana pemerintah menggalang gerakan atau program literasi. Ia ada di Kemendikbudristek, tepatnya di tiga lembaga berbeda, yaitu Pusat Perbukuan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dan Perpustakaan Nasional. Di sisi lain, program ini juga ada di Kemenparekraf. Program antarlembaga itu kerap bersinggungan dan beririsan, termasuk peningkatan kapasitas menulis.

Program itu seperti bergumam: Ayo, Indonesia membacalah atau Ayo, Indonesia menulislah. Mari menelusuri sejarah bahwa sejatinya Indonesia adalah bangsa yang literat. Indonesia dirintis oleh segelintir pribumi yang sadar literasi sejak dahulu. Indonesia punya kesejatian sebagai bangsa yang membaca dan menulis sejak dulu.

Namun, kesejatian ini yang mulai luntur karena sering kita kehilangan orientasi terhadap literasi itu sendiri. Literasi kita dipenuhi jargon-jargon. Literasi kita kini dipenuhi ketidaksejatian di antara kesejatian yang tertutupi.

Kesejatian ini penting karena di Indonesia yang tidak sejati terkadang kadung dipercayai. Pelatihan menulis buku best seller jusru diajarkan oleh orang yang bukunya tidak pernah best seller. Pelatihan menulis buku cerita anak justru diajarkan oleh orang yang tidak pernah menulis cerita anak atau baru sekali menulis cerita anak. Ketidaksejatian ini dapat dengan mudah diterima publik tanpa filter sehingga wajar jika kemudian lahirlah generasi penulis yang aneh bin ajaib.

Walaupun begitu, kita tidak perlu pesimistis. Masih ada para literator yang melatih para calon penulis dengan sepenuh hati. Masih ada para litetor yang beragih ilmu tanpa jeda, kecuali ia telah tiada—meskipun begitu, buku-bukunya tetap meninggalkan jejak kesejatian. Kita tetap optimistis Indonesia benar-benar akan menjadi bangsa yang literat jika diperingkat.

Menulislah Indonesia. Saya pun ingin menyampaikan hal itu karena di dalam kesejatian menulis itu tentu saja ada membaca. Artikel ini menjadi artikel perdana untuk memulai proyek penulisan buku bertajuk Menulislah Indonesia: Tulislah Apa yang Anda Mau dan Anda Mampu. Saya ingin mengumpulkan sepilihan esai dari remah-remah literasi di Indonesia dengan cukup dua kata saja: mau dan mampu. Di mana ada kemauan di situ ada jalan.

Salam insaf!

 

Leave a Comment