Seni Menulis Pidato untuk Orang Lain (Tokoh)

PenulisPro.id | Rabu, 3 November 2021, saya dijadwalkan mengisi satu sesi webinar tentang penulisan teks pidato untuk Sekretariat Negara, Wakil Presiden RI. Ini kali kedua dalam tahun 2021, saya mengisi kegiatan lokakarya menulis untuk tim di Setneg Wapres RI, khususnya jabatan fungsional analis kebijakan (JFAK).

Apakah Anda pernah menyampaikan pidato dengan teks (manuscript) atau mendukung seseorang untuk menyampaikan pidato dengan teks? Ya, mungkin Anda sendiri yang menulis teks pidato sekaligus membacakannya. Boleh jadi juga Anda mendapat tugas menyiapkan teks pidato untuk orang lain, apakah itu seorang eksekutif bisnis atau pejabat negara, seperti K. H. Ma’ruf Amin.

Penyiapan teks pidato lazimnya menjadi bagian dari pekerjaan seorang staf humas (PR) atau staf komunikasi korporat. Alhasil, personel yang bertugas menyiapkan pidato harus bersiap dan harus selalu kreatif. Mengapa harus kreatif? Banyak kecenderungan penulis teks pidato mengambil jalan pintas dengan mendaur ulang teks pidato lama.

Pada saat Budiono menjadi Wapres RI, pernah mencuat kasus daur ulang pidato. Wapres Budiono membuka acara International Indonesia Investment Summit 2013. Ia menyampaikan pidato yang menarik, tetapi ternyata pidato itu hampir identik dengan pidatonya tahun lalu. Mungkin penulis teks pidato mengambil jalan pintas dengan berasumsi tidak akan ada yang tahu bahwa itu mirip dengan pidato tahun lalu.

Penulis pidato tidak boleh berasumsi sepert itu. Jika isu yang diangkat sama atau berulang, penulis pidato secara kreatif dapat menulis dengan sudut pandang lain. Fenomena-fenomena terbaru dapat ditambahkan.

Pidato dengan Teks

Berbeda pemimpin, berbeda pula gaya pidatonya. Wapres Budiono mirip dengan atasannya, Presiden SBY, dalam berpidato yakni lebih sering menggunakan teks. Adapun Wapres Jusuf Kalla lebih sering berpidato tanpa teks. Berbeda lagi dengan Wapres K. H. Ma’ruf Amin yang dikenal sebagai ulama dan juga akademisi, tentu juga sudah terbiasa menjadi pembicara publik dengan berpidato tanpa teks. Namun, dalam forum resmi kenegaraan, Wapres K. H. Ma’ruf Amin lebih sering berpidato dengan teks.

Tajuk webinar yang akan saya hadiri adalah “Taktis Menyusun Sambutan Wakil Presiden”.¬†Secara umum melalui webinar (lokakarya) ini tim dari Setneg Wapres RI akan dilatih untuk menyiapkan teks pidato yang dibacakan. Pidato dengan teks biasanya disampaikan secara formal, baik dalam durasi panjang maupun durasi yang singkat. Pidato itu terkait dengan suatu isu tertentu yang disampaikan dalam aneka forum, seperti peringatan, peresmian, ataupun pembukaan suatu kegiatan.

Seni untuk menyiapkan pidato bagi orang lain tentu harus dipahami oleh si penulis pidato. Pertama, penulis pidato harus memahami dulu siapa yang memberikan pidato. Penulis pidato harus mengenal terlebih dulu karakter dan gaya K. H. Ma’ruf Amin ketika berbicara. Jika diperlukan, video-video ceramah atau saat Wapres berbicara perlu ditonton. Dalam istilah saya, ini disebut kalibrasi untuk mengenali bahasa (diksi, tata kalimat, nada, dan sebagainya) khas dari K. H. Ma’ruf Amin.

Kedua, penulis pidato harus mencari informasi dasar yang diperlukan dalam penulisan teks atau naskah pidato. Informasi dasar itu, yaitu (1) dalam konteks apa pidato disampaikan (formal atau nonformal); (2) siapa audiensi yang hadir dan mendengarkan pidato; (3) dalam momentum apa pidato disampaikan (peresmian, pembukaan kegiatan, pengarahan, dsb.); (4) berapa lama durasi yang disediakan untuk menyampaikan pidato; (5) isu apa yang diangkat dalam pidato.

Sebagai pejabat negara, sering kali kesempatan berpidato disisipi dengan pandangan sang pejabat terhadap suatu isu tertentu. Hal ini wajar saja karena pada saat itu para wartawan hadir untuk menangkap sisi menarik dari narasumber penting sehingga menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan menyampaikan pandangan sehingga dikutip oleh media massa. Misalnya, ketika memberikan sambutan dalam suatu kegiatan Hari Santri Nasional, sangat mungkin Wapres menyelipkan informasi tentang penanganan Covid-19 di pesantren.

Ketiga, penulis pidato harus mampu mencari sudut pandang yang menarik dalam permulaan (pendahulu) pidato sekaligus juga untuk penutup (penyudah) pidato. Dalam pidato antara pendahulu dan penyudah sama pentingnya, selain isi pidato tentunya. Penting bagi penulis pidato untuk merancang ragangan (outline) pidato dengan membuat terlebih dahulu poin-poin dengan struktur seperti jam pasir berikut ini.

Sumber: Bambang Trim
Sumber: Bambang Trim

Keempat, penulis pidato harus memperhatikan unsur teks pidato yang komunikatif, yaitu

  1. Kesatupaduan (unity) artinya antara pendahulu, isi, dan penyudah merupakan satu kesatuan teks, tidak ada materi yang berdiri sendiri. Ketiganya harus saling mendukung.
  2. Keterpautan (coherence) artinya terdapat hubungan yang saling mengait antar kata, frasa, kalimat, dan paragraf. Keterpautan dapat diupayakan dengan menggunakan frasa penghubung antarkalimat, poin-poin urutan, atau repetisi.
  3. Keberadaan penekanan/titik berat (emphasis) artinya ada bagian-bagian penting yang dapat ditekankan. Dalam pidato hal ini muncul dengan memberi nada atau intonasi yang berbeda dari bagian teks lain.
  4. Ketuntasan (completeness) artinya pesan yang disampaikan melalui pidato sudah secara lengkap disampaikan tentu disesuaikan dengan durasi yang disediakan.

Kalibrasi Tokoh

Dulu saat aktif sebagai eksekutif di perusahaan penerbitan, saya kerap menuliskan teks pidato untuk pemilik perusahaan atau komisaris perusahaan dalam berbagai acara. Beberapa tugas menulis teks pidato pun sempat dimintakan kepada saya. Bagi saya seni menulis pidato yang paling berkesan adalah mengalibrasi tokoh yang hendak menyampaikan pidato.

Saat aktif di MQ Corp sebagai Direktur MQS Publishing, saya menikmati upaya mengalibrasi sosok Aa Gym dari berbagai kegiatan yang menghadiri beliau. Dari situ saya menuliskan artikel dan buku-buku atas nama Aa Gym dengan gaya bahasanya, termasuk diksi yang kerap digunakannya. Saya mengisi suplemen MQ di Republika dan sebuah kolom di Tabloid Bola atas nama tokoh, Aa Gym.

Saya membayangkan jika bekerja di suatu institusi pemerintah yang pada suatu periode berganti pimpinan, personel penulis pidato harus selalu bersiap mengalibrasi pemimpin barunya. Berbeda pemimpin pasti berbeda gaya, termasuk gaya ia menyampaikan pidato. Di sinilah seni berkutat menulis pidato untuk sang tokoh. Seorang penulis pidato juga harus peka terhadap isu-isu yang mengemuka.

Leave a Comment