Menulis book chapter dapat menjadi “pemanasan” sebelum Anda menulis buku ilmiah secara utuh. Sebabnya, Anda hanya menulis satu bab buku atau boleh juga dua bab, baik secara mandiri maupun secara kolaboratif.
Penulis book chapter dari kalangan dosen diganjar angka kredit (AK) prestasi sebesar 15 untuk book chapter yang diterbitkan oleh penerbit internasional dan AK 10 untuk penerbitan nasional.
1. Book Chapter Diterbitkan dalam Edited Book
Book chapter merupakan nama bagian buku dari jenis buku yang disebut buku suntingan (edited book). Jadi, book chapter bukan sebutan untuk buku jenis tertentu. Dalam konteks penerbitan buku ilmiah, dimungkinkan menerbitkan karya berupa himpunan bab yang ditulis oleh berbagai penulis, baik secara mandiri maupun kolaboratif.
Buku suntingan tidak sama dengan jenis buku bernama bunga rampai—hal ini sering kali menjadi kekeliruan. Apa perbedaannya? Buku suntingan memuat beberapa bab buku dalam satu tema besar. Antarbab terdapat benang merah yang membentuk sebuah “arsitektur” buku ilmiah.
Di buku suntingan terdapat posisi editor buku suntingan yang berperan menyusun alur bab dan memberi prolog sekaligus epilog. Struktur bab juga tampil sangat fleksibel yang diakhiri dengan daftar rujukan (referensi).
Berbeda halnya dengan bunga rampai karena isi bunga rampai sangat beragam. Ia dapat berupa artikel/esai ilmiah. Bahkan, dalam konteks sastra, bunga rampai (antologi) dapat berisi karya puisi dan cerpen, baik dari beberapa penulis maupun dari satu penulis. Jadi, bunga rampai jika dikategorikan sebagai karya tulis ilmiah, posisinya tidak lebih kukuh daripada buku suntingan yang isinya lebih konsisten sebagai bab buku meskipun bab itu berdiri sendiri—tidak ada keterkaitan langsung dengan bab lain.
2. Penulis Book Chapter Sebagai Kontributor
Posisi penulis book chapter disebut sebagai kontributor. Kontributor biasanya dari kalangan akademisi atau pakar suatu bidang. Karena itu, beberapa penerbitan buku suntingan merupakan penerbitan yang telah dirancang siapa penulis dan bagaimana penulisannya (solicited). Para kontributor yang terpilih mendapatkan undangan menulis langsung oleh penerbit untuk topik tertentu.
Di samping itu, ada juga model pengadaan naskah dengan cara tidak dirancang siapa penulisnya (unsolicited), tetapi melalui sayembara atau call for chapter. Dalam model unsolicited, latar belakang pendidikan, pengalaman, dan rekam jejak penulis sangat diperhitungkan. Karena itu, tidak relevan jika ada undangan menulis book chapter ditujukan untuk siswa SMA/SMK atau mahasiswa, kecuali mahasiswa pascasarjana.
3. Editor Book Chapter Ditunjuk oleh Penerbit
Editor book chapter merupakan tokoh sentral di balik penerbitan buku suntingan. Ia mengatur alur bab yang akan disusun menjadi buku suntingan. Selain itu, ia memberikan prolog dan epilog pada buku suntingan. Editor book chapter harus memiliki kompetensi dalam kurasi penulisan dan sebagai reviewer.
Editor book chapter diperkenankan turut menyumbang bab tulisan karena hal itu bukan sebuah pelanggaran etis akademis. Perlu dipahami juga bahwa kedudukan editor book chapter tidak sama dengan copyeditor (penyunting naskah). Editor book chapter tidak bekerja menyunting naskah, tetapi bekerja melakukan kurasi, mereviu naskah, dan menyusun alur penyajian bab. Adapun editor naskah secara lebih teknis melakukan penyuntingan mekanis, bahasa, dan substantif. Di dalam penerbitan buku suntingan juga terdapat peran editor naskah.
4. Struktur Book Chapter Lebih Fleksibel
Struktur book chapter adalah struktur bab buku yang lebih fleksibel dengan penggunaan judul deskriptif. Karena itu, bab buku tidak tampil seperti artikel ilmiah yang kaku dengan judul-judul normatif (Pendahuluan-Rumusan Masalah-Metodologi-Hasil dan Pembahasan-Simpulan).
Tidak ada pembatasan jumlah kata dalam satu bab buku, kecuali diatur dan dibatasi oleh penerbit. Isi bab buku juga tidak harus merupakan hasil penelitian/pengembangan dari suatu bidang ilmu, tetapi dapat juga berupa pemikiran, bahkan pemikiran interdisipliner terhadap pemecahan suatu masalah. Isi bab ditulis dengan gaya ilmiah populer dan diakhiri dengan referensi (daftar rujukan).
Walaupun demikian, bab buku menyumbang dan menopang arsitektur buku secara keseluruhan sehingga ia bukan sekadar tempelan bab. Di sinilah berperan seorang editor yang dapat merajut struktur antarbab. Jika artikel ilmiah cenderung membuktikan sesuatu, bab buku menantang kontribusi pemikiran Anda terhadap tema utama sehingga buku suntingan disebut tampil lebih kukuh karena ada berbagai sudut pandang.
Penulis book chapter perlu mengenali tema utama dan apa yang diinginkan oleh editor. Dengan demikian, seseorang yang membaca buku suntingan berupa book chapter tidak merasa ia sedang membaca sekumpulan artikel ilmiah yang kaku. Book chapter dapat dibaca secara bertahap atau secara acak, tetapi tetap menawarkan satu benang merah pembahasan.
Itulah empat poin yang perlu diperhatikan sebelum menulis book chapter di buku suntingan (edited book). Menulis bab buku ilmiah menjadi batu loncatan Anda untuk menulis monografi dan buku referensi. Salam insaf!
Bagikan ini:
- Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak











